twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Sunday, June 12, 2011

kerangka berfikir irfani: Dasar-Dasar Falsafi Ahwal dan Maqamat

KERANGKA BERFIKIR IRFANI:
DASAR-DASAR FALSAFI AHWAL DAN MAQAMAT
A.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Sejarah tentang perkembangan pemikiran keislaman memiliki mata rantai yang cukup panjang dan kajian atas persoalan ini pasti akan melibatkan kompleksitas, namun sejalan dengan itu upaya penggalian informasi mengenai perkembangan pemikiran keislaman melalui naskah-naskah yang dihasilkan oleh para ulama terdahulu) menjadi sesuatu yang mutlak harus terus dilakukan, mengingat tema yang terkandung dalam naskah-naskah tesebut pun sangat beragam dan diantara tema yang banyak menarik perhatian para peneliti naskah adalah tentang tasawuf. Tasawuf atau sufisme adalah istilah yang khusus dipakai untuk menggambarkan mistisesme dalam Islam. Adapun tujuan tasawuf ialah memperoleh hubungan langsung dan dekat dengan Tuhan. Dalam islam kita mengenal beberapa aliran tasawuf, diantaranya aliran tasawuf Akhlaqi, Tasawuf Irfani dan Tasawuf Falsafi.
Tinjauan terhadap tasawuf menunjukkan bagaimana para sufi memiliki suatu konsepsi tentang jalan menuju Allah (thariqat). Jalan ini dimulai dengn latihan-latihan rohaniah (riyadhah), lalu secara bertahap menempuh berbagai fase yang dikenal dengan maqam (tingkatan) dan hal (keadaan), yang berakhir dengan ma’rifat kepada Allah.
2.       Rumusan Masalah
Dalam maklah ini, penulis merumuskan beberapa persoalan, yaitu:
1.   Apa saja maqamat yang dijalani kaum sufi ?
2.   Ahwal apa saja yang dijumpai dalam perjalanan sufi ?




B.     Dasar-Dasar Falsafi Ahwal dan Maqamat
1.      Pengertian Ahwal dan Mahqamat.
 Yang dimaksud dengan hal (jamak: ahwal) adalah keadaan atau kondisi psikologis ketika seorang sufi mencapai tingkatan tertentu. Al-Qusyairi dalam kitabnya Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, berkata, “hal adalah makna yang datang pada qalbu tanpa disengaja”. Hal diperoleh tanpa daya dan upaya, baik dengan menari, bersedih hati, bersenang-senang, rasa tercekam, rasa rindu, rasa gelisah, atau rasa  harap.  Dengan kata lain hal sama dengan bakat.[1]
Sedangkan maqam (jamak; Maqamat) adalah tingkatan, artinya tingkatan seorang hamba di hadapan-Nya.[2] Dalam hal ibadah dan latihan-latihan (riyadhah) jiwa yang dilakukannya. Dalam kalangan sufi, urutan maqam ini berbeda-beda.sebagian mereka merumuskan maqam dengan sederhana seperti, tanpa qanaah, tawakal tidak akan tercapai;tanpa tawakal , taslim tidak  akan tercapai; sebagaimana tanpa tobat, inabah tidak akan ada; tanpa wara’, zuhud tidak akan ada. Sementara itu Al-Ghazali merumuskan maqam seperti berikut ini: tobat, sabar, syukur, khauf dan raja’, tawakkal, mahabbah, rida, ikhlas, muhasabah, dan muraqabah.
Al-kaladzi menyebutkan adanya 10 maqam yang harus dilewati oleh para pejalan spiritual, yaitu al-taubah, al zuhd, al-shabr, al-faqr, al-tawadhu’, al-taqwa, al-tawakkul, al-ridha, al-mahabbah, dan al-ma’rifah.[3]
2.      Maqam-Maqam Dalam Tasawuf
Seperti disinggung diatas bahwa maqam (jamaknya maqamat) yang dijalani kaum sufi umumnya terdiri dari tobat, zuhud, faqr, sabar, syukur, rela, dan tawakal.
a.      Tobat
Tobat adalah rasa penyesalan yang sungguh-sungguh dalam hati disertai permohonan ampun serta meninggalkan segala perbuatan yang menimbulkan dosa. Kebanyakan sufi menjadikan tobat sebagai perhentian awal di jalan menuju Allah. Pada tingkat terendah , tobat menyangkut dosa yang dilakukan anggota-anggota badan. Pada tingkat menengah, selain menyangkut dosa yang dilakukan jasad juga menyangkut pula pangkal dosa-dosa, seperti iri, dengki, dan riya. Pada tingkat yang lebih tinggi, tobat menyangkut usaha menjauhkan bujukan setan dan menyadarkan jiwa akan rasa bersalah. Pada tingkat terakhir, tobat berarti penyesalan atas kelengahan pikiran dalam mengingat Allah. Tobat pada tingkat ini adalah penolakan terhadap segala sesuatu selain yang dapat memalingkan dari jalan Allah.
b.      Zuhud
Zuhud dapat diartikan sebagai suatu sikap melepaskan diri dari rasa ketergantungan terhadap ketergantungan kehidupan duniawi dengan mengutamakan kehidupan akhirat.  Sampai dimana batas pelepasan diri dari rasa ketergantungan itu ? Al-ghazali mengartikan zuhud sebagai sikap mengurangi keterikatan pada dunia untuk kemudian menjauhinya dengan penuh kesadaran. Al-Qusyairi mengartikan zuhud sebagai suatu sikap menerima rezeki yang diterimanya. Hasan al-Bashri mengatakan zuhud adalah meninggalkan kehidupan dunia, karena dunia ini tidak ubahnya seperti ular , licin apabila dipegang, tetapi racunnya dapat membunuh.[4]
Dilihat dari maksudnya, zuhud terbagi atas  tiga tingkatan. Pertama, menjauhkan dunia ini agar terhindar dari hukuman akhirat. Kedua, menjauhkan dunia dengan menimbang imbalan di akhirat. Ketiga, mengucilkan dunia bukan karena takut atau berharap, tetapi karena cinta kepada  Allah. Orang yang berada pada tingkat ketiga ini akan memandang segala sesuatu tidak ada arti apa-apa kecuali Allah.
c.       Faqr (Fakir)
Al-faqr adalah tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai dan merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki, sehingga tidak meminta sesuatu yang lain. Pada prinsipnya, sikap mental faqr merupakan rentetan sikap zuhud. Hanya saja zuhud lebih keras menghadapi kehidupan duniawi, sedangkan fakir hanya pendisiplinan diri dalam mencari dan memanfaatkan fasilitas hidup.
Sikap fakir selanjutnya akan memunculkan sikap wara’. Menrut para sufi, wara’ adalah sikap berhati-hati ddalam menghadapi sesuatu yang kurang jelas masalahnya. Apabila bertemu dengan satu persoalan yang tidak jelas hukumnya  atau tidak jelas asal-usulnya lebih baik untuk meninggalkannya.[5]
d.      Sabar
Sabar ialah tahan menderita, berhati-hati atau selectiva dalam bertindak.[6] Sabar jika dipandang sebagai pengekangan tuntutan nafsu dan amarah, dinamakan Al-Ghazali sebagai kesabaran jiwa (ash-shabr an-nafs), sedangkan menahan terhadap penyakit fisik disebut sebagai sabar badani (ash-shabr al-badani). Kesabaran sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek. Misalnya untuk menahan nafsu makan dan seks yang berlebihan.
Menurut syekh ‘Abdul Qadir al-Jalani, sabar ada tiga macam, yaitu:[7]
1.      Bersabar kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
2.      Bersabar bersama Allah, yaitu bersabar terhadap ketetapan Allah dan perbuatan-Nya terhadapmu, dari berbagai macam kesulitan dan musibah.
3.      Bersabar atas Allah, yaitu bersabar terhadap rezeki, jalan keluar, kkecukupan, pertolongan, dan pahala yang dijanjikan Allah di hari akhirat.
e.       Syukur
Syukur adalah menerima nikmat dengan membesarkan Allah SWT[8]. Syukur diperlukkan karena semua yang kita lakukan dan miliki di dunia adalah berkat karunia Allah. Menurut Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani, hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah karena Dialah Pemilik karunia dan pemberian sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah, juga patuh kepada syariat-Nya. Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani membagi syukur menjadi tiga macam, pertama dengan lisan, yaitu dengan mengakui adanya nikmat dan merasa tenang. Kedua, syukur dengan badan dan anggota badan, yaitu dengan cara melaksanakan ibadah sesuai dengan perintah-Nya. Ketiga,syukur dengan hati.
f.       Rela (Rida)
Rida’ berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah SWT. Orang yang rela mampu melihat hikmah dan kebaikan di balik cobaan yang diberikan Allah dan tidak berburuk sangka terhadap ketentuan-Nya. Hanyalah para ahli ma’rifat dan mahabbah yang mampu bersikap seperti ini. Mereka bahkan merasakan musibah dan ujian sebagai suatu nikmat, lantaran jiwanya bertemu dengan yang dicintainya.
Menurut Abdul Halim Mahmud, rida mendorong manusia untuk berusaha sekuat tenaga mencapai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Namun, sebelum mencapainya, ia harus menerima dan merelakan akibatnya dengan cara apapun yang disukai Allah.
g.      Tawakal
Hakikat tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT, membersihkannya dari ikhtiar yang keliru, dan tetap menapaki kawasan-kawasan hukum dan ketentuan. Tawakal merupakan gambaran keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah. Dalam hal ini, Al-Ghazali mengaitkan tawakal dengan tauhid, dengan penekanan bahwa tauhid sangat berfungsi sebagai landasan tawakal.[9]
Tawakal terbagi pada tiga derajat; tawakal, taslim, dan tafwidh. Orang yang bertawakal merasa tentram dengan janji Rabb-nya. Orang yang taslim merasa cukup dengan ilmu-Nya. Adapun pemilik tafwidh rida dengan hukum-Nya. Pendapat lainnya tawakal adalah sifat orang-orang yang beriman, taslim adalah sifat para wali, sedangkan tafwidh dalah sifat orang-orang mengesakan.
4.      Ahwal Yang Dijumpai dalam Perjalanan Sufi
a.      Waspada  dan Mawas Diri (Muhasabah dan Muraqabah)
Waspada  dan Mawas Diri merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Oleh karena itu, ada sufi yang mengusapnya secara bersamaan.waspada dan mawas diri mmerupakan dua sisi dari tugas yang sama dalam menundukkan perasaan jasmaniyang berupa kombinasi dari pembawaan nafsu dan amarah.[10]
Waspada dapat diartikan meyakini Allah mengetahui segala pikiran, perbuatan, dan rahasia dalam hati, yang membuat seseorang menjadi hormat, takut, dan tunduk kepada Allah. Adapun Mawas diri  adalah meneliti dengan cermat apakah segala perbuatan sehari-hari telah sesuai atau malah menyimpang dari yyang di kehendaki-Nya.

b.      Cinta (hubb)
Cinta adalah aktifitas hati yang memunculkan pengaruh pada anggota tubuh dalam mengikuti dan melaksanakan perintah orang yang dicinta, serta menjauhi dan menolak larangan orang yang dicinta.[11]
Dalam pandangan tasawuf, mahabbah (cinta) merupakan pijakan bagai segenap kemuliaan hal, seperti halnya tobat yang merupakan dasar bagi kemuliaan maqam. Karena mahabbah pada dasarnya adalah anugerah yang menjadi dasar pijakan bagi segenap hal, kaum sufi menyebutnya sebagai anugerah-anugerah (muwahib). Mahabbah adalah kecenderungan hati untuk memerhatikan keindahan atau kecantikan.
Berkenaan dengan mahabbah, suhrawardi pernah mengatakan, “sesungguhnya, mahabbah adalah suatu mata rantai keselarasan yang mengikat sang pecinta kepada kekasihnya; suatu ketertarikan kepada kekasih, yang menarik sang pecinta kepadanya, dan melenyapkan sesuatu dari wujudnya, sehingga pertama-tama ia menguasai seluruh sifat dalam dirinya, kemudian menangkap zatnya dalam genggaman Qudrah (Allah).
c.          Berharap dan takut ( Raja’ ddan Khauf)
Raja’ atau optimisme adalah perasaan hati yang senang karena menanti sesuatu yang diinginkan dan disenangi.
Raja’ menuntuttiga perkara, yaitu:
a.       Cinta kepada apa yang diharapkannya.
b.      Takut harapannya itu hilang.
c.       Berusaha untuk mencapainya.
Ahmad faridh menegaskan bahwa khauf merupakan cambuk yang digunakan Allah untuk menggiring hamba-hambanya menuju ilmu dan amal, supaya dengan keduanya itu mereka dapat dekat kepada Allah. Khauf adalah kesakitan hati karena membayangkan sesuatu yang ditakuti, yang akan menimpa diri pada masa ynag akan dating. Khauf dapat mencegah hambba dari perbuatan maksiat dan mendorongnya untuk senantiasa berada dalam keataatan.
Kekurangan khauf akan menyebabkan seseorang lalai dan berani berbuat maksiat, sedangkan khauf yang berlebihan akan menjadikannya pesimis dan putus asa. Begitu juga sebaliknya, terlalu besar sikap raja’ akan membuat seseorang sombong dan meremehkan amalan-amalannya, karena optimisnya berlebihan.
d.      Rindu (syauq)
Selama masih ada cinta, syauq tetap diperlukan. Dalam lubuk jiwa, rasa rindu hidup dengan subur, yakni rindu ingin segera bertemu dengan tuhan. Bagi sufi yang rindu kepada tuhan, kematian dapat berarti bertemu dengan Tuhan, sebab hidup merintangi pertemuan ‘abid dan ma’bud-Nya.[12]
Menurut Al-Ghazali, kerinduan kepada Allah dapat dijelaskan melalui penjelasan tentang keberadaan cinta kepada-Nya. Pada saat tidak ada, setiap yang dicintai pasti dirindukan orang yang mencintainya. Kerinduan berarti menanti sesuatu yang tidak ada.
e.       Intim (Uns)
Dalam pandangan kaum sufi, sifat Uns adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Ungkapan berikut ini melukiskan sifat uns.
“ada orang yang merasa sepi dalam keramaian. Ia adalah orang yang selalu memikirkan kekasihnya sebab sedang dimabuk cinta, seperti halnya sepasang muda-mudi. Adapula orang yang merasa bising dalam kesepian. Ia adalah orang yang selalu memikirkan atau merencanakan tugas pekerjaannya semata-mata. Adapun engkau selalu berteman dimanapun berada. Alangkah mulianya engkau berteman dengan Allah, artinya engkau selalu berada dalam pemeliharaan Allah.”
Ungkapan di atas melukiskan keakraban seorang sufi dengan Tuhannya. Siikap keintiman ini banyak dialami oleh kaum sufi.
5.      METODE IRFANI
Dalam dunia Tasawuf qalb merupakan pengetahuan tentang hakikat-hakikat, termasuk di dalamnya hakikat ma’rifat. Qalb yang dapat memperoleh ma’rifat adalah yang telah tersucikan dari berbagai noda atau akhlak yang jelek yang sering dilakukan manusia. Qalb yang tersucikan akan mampu menembus alam malakut (misalnya alam malaikat). Sebab, Al_Ghazali dalam kimiya’ As-Sa’adah-nya memasukkan qalb sebagai sesuatu yang sejenis dengan malaikat. Ketika berada di alam malakut inilah qalb mampu memperoleh ilmu pengetahuan dari Tuhan. Tampaknya, kaum sufi memandang kesucian qalb sebagai prasyaratuntuk berdialog secara batini dengan Tuhan, karena Tuhan hanya dapat didekati dengan jiwa yang suci. Ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari kondisi inilah yang mereka sebut sebagai Ilmu Ma’rifat, dan bahkan secara spesifik dapat memperoleh ilmu laduni, yakni ilmu yang dating lewat ilham yang dibisikkan ke dalam hati manusia.[13]
Dengan demikian, qalb berpotensi untuk berdialog dengan Tuhan. Iniilah yang dimaksud Al-Ghazali dengan ungkapan diluar akal dan jiwa, terdapat alat yang dapat menyingkap pengetahuan yang gaib dan hal-hal yang akan terjadi pada masa mendatang. Penyingkapan pengetahuan seperti ini merupakan wacana ‘irfaniyah. Hanya dengan saran qalb itulah, ilmu ma’rifat dapat diperoleh manusia.
Disamping melalui tahapan-tahapan maqamat dan ahwal, untuk memperoleh ma’rifat, seseorang harus melalui upaya-upaya tertentu. Upaya yang dimaksud antara lain sebagai berikut.
a.      Riyadhah
Riyadhah adalah latihan kejiwaan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal yang dapat mengotori jiwanya. Riadhah dapat pula berarti proses internalisasi kejiwaan dengan sifat-sifat terpuji dan melatih membiasakan meninggalkan sifat-sifat jelek.
Riyadhah harus disertai dengan mujahadah. Mujahadah yang dimaksudkan disini adalah kesunnguhan dalam perjuangan meninggalkan sifat-sifat jelek. Perbedaan riyadhah dengan mujahadah adalah kalau Riyadhah berupa tahapan-tahapan real, sedangkan mujahadah berjuang menekan pada masin-masing riyadhah.
Riyadhah perlu dilakukan karena imu ma’rifat dapat diperoleh melalui upaya melakukan perbuatan kesalehan atau kebaikan yang terus-menerus. Dalam hal ini, riyadhah berguna untuk menempa tubuh jasmani dan akal budiorang yang melakukan latihan-latihan itu sehingga mmampu menangkap dan menerima komunikasi dari alam ghaib (malakut) yang transcendental. Hal terpenting dalam riyadhah adalah melatih jiwa melepaskkan keterrgantungan terhadap kelezatan duniawi yang fatamorgana, lalu menghubungkan diri dengan realitas rohani dan Ilahi. Dengan demikian, riyadhah akan mengantarkan seseorang selalu berada di bawah bayangan Yang Kudus.
b.      Tafakur
Tafakur penting dilakukan oleh manusia yang menginginkan ma’rifat. Sebab, tatkala jiwa telah belajar dan mengolah ilmu, lalu memikirkan (bertafakur) dan menganalisanya, pintu kegaiban akan dibukakan untuknya. Menuurut Al-Ghazali orang yang brfikir dengan benar akan menjadi dzawi al-albab (ilmuwan) yang terbuka pintu kalbunya sehingga akan mendapat ilham.
Tafakur belansung secara internal dengan proses pembelajaran dari dalam dari manusia melalui aktivitas berpikir yang menggunakan perangkat batiniah (jiwa). Selanjutnya tafakur dilakukan dengan memotensiikan nafs kulli (jiwa universal). Validitas yang diperoleh melalui metode tafakur sangat tinggi kualitasnya.sebab tafakur memotensikan nafs kulli (jiwa universal), sebagaimana yang diungkapkan Al-Ghazali: “nafs kulli lebih besar dan lebih kuat hasilnya dan lebih besar kemampuan perolehannya dalam proses pembelajaran.”
c.       Tazkiyat An-Nafs
Tazkiyat An-Nafs adalah proses penyucian jiwa manusia. Proses penyucian jiwa dalam kerangka tasawuf in dapat dilakukan melalui tahapan takhalli dan tahalli. Tazkiyat An-Nafs merupakan inti kegiatan bertasawuf.
Upaya melakukan penyempuranaan jiwa perlu dilakukan oleh setiap orang yang menginginkan ilmu ma’rifat. Ada lima hal yang menjadi penghalang bagi jiwa dalan nnenangkap hakikat, yaitu: pertama, jiwa yang belum sempurna. Kedua, jiw yang dikotori perbuatan-perbuatan maksiat. Ketiga, menururti keinginan badan. Keempat, penutup yang menghalangi masuknya hakikat kedalam jiwa (taqlid). Kelima, tidak dapat berpikir logis. Dibutuhkan pengembalian jiwa kepada kesempurnaannya untuk menghilangkan penghalang itu.dalam konteks inilah, penyempurnaan jiwa dapat dilakukan dengan tazkiyat an-nafs.
Tazkiyat an-nafs dalam konsepsi tasawuf berdasar pada asumsi bahwa jiak manusia ibarat cermin, sedangkan ilmu ibarat gambar-gambar objek material. Kegiatan mengetahui sesungguhnya ibarat cermin yang menangkap gambar-ganbar. Banyaknya gambar yang tertangkap dan jelasnya tangkapan bergantung pada kadar kebersihan cermin bersangkutan. Dengan demikian, kesucian jiwa adalah syarat bagi masuknya hakikat-hakikat atau ilmu ma’rifat ke dalam jiwa.
d.      Dzikrullah
Secara etimologi, dzikir adalah mengingat, sedangkan secara istilahadalah mambasahi lidahb dengan ucapan-ucapan pujian kepada Allah. Dzikir merupakan metode lain yang palin utama untuk memperoleh ilmu laduni.
Pentingnya dzikir untuk mendapatkan ilmu ma’rifat didasarkan atas argumentasi tentang peranan dzikir itu sendiri bagi hati. Al-Ghazali dalam Ihya’ menjelaskan bahwa hati manusia tak ubahnya seperti kolam yang mengalir kedalamnya bermacam-macam air. Pengaruh yang dating ke dalam hati adakalanya berasal dari luar, yaitu pancaindra, dan adakalanya dari dalam, yaitu khayal, syahwat, amarah, dan akhlak atau tabiat manusia.
Dalam pandangan sufi, dzikir akan membuka tabir alam malakut, yakni denggan datangnya malaikat. Sudah menjadi kesepakatan umum bahwa dzikir merupakan kesepakata  alam ghaib, penarik kebaikan, penjinak was-was, dan pembuka kewalian. Dzikir juga bermamfaat untuk membersihkan hati. Dalam Ihya’, Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang terang merupakan hasil dzikir kepada Allah. Takwa merupakan pintu gerbang dzikir, sedangkan dzikir merupakan pintu gerbang kasyaf (terbukanya hijab). Sedangkan kasyaf adalah pintu gerbang kemenangan besar. Dzikir juga berfungsi untuk menghalangi setan dari hati manusia. Pada saat itulah malaikat akan memberikan ilham ke dalam hati.








                                                                               

C.    Kesimpulan
1.      Seorang sufi tidak begitu saja dekat dengan Tuhannya melainkan ia harus menempuh beberapa maqam (tingkatan), diantaranya tobat, zuhud, faqr, sabar, syukur, rela, dan tawakal.
2.      Ahwal yang sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi antara lain adalah waspada dan mawas diri, cinta, berharap dan takut, rindu, dan intim.
3.      Hati menjadi sarana untuk memperoleh ma’rifat, dan qalbulah yang akan mengetahui hakikat pengetahuan, karena qalb telah dibbekali potensi untuk berdialog dengan Tuhan.












Daftar Pustaka
Solihin, M dan Rosihon Anwar. 2008. Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.
Haidar, bagir. 2003. Buku Saku Tasawuf. Bandung: arasy mizan.
As-Sayyid, Muhammad. 2003. Tasawuf dalam pandangan Al-quran dan As-sunnah. Jakarta: Cendekia.
Syahrizal dan Taslim. 2005. Ilmu Tasawuf. Banda Aceh: PeNA.
Anwar, rosihan dan Mukhtar Solihin. 2004. Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.












[1] M.solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu tasawuf, (pustaka setia, bandung, 2008) hlm 77
[2] Ibid. hlm. 76
[3] Bagir haidar, buku saku tasawuf (arasy mizan, bandung, 2003) hlm 134
[4] M.solihin dan Rosihon Anwar. Ilmu tasawuf…..,hlm. 79

[5] Ibid.., hlm. 80
[6]Syahrizal dan taslim, ilmu tasawuf ( PeNA, Banda Aceh  2005) hlm 141
[7] M.solihin dan Rosihon Anwar. Ilmu tasawuf…..,hlm. 81
[8] Syahrizal dan taslim,,,, hlm. 143
[9] M.solihin dan Rosihon Anwar, hlm. 82.
[10] Ibid. hlm. 81
[11] Muhammad as-sayyid, tasawuf dalam pandangan al-quran dan as-sunnah (cendekia, jakarta, 2003) hlm 76

[12] Rosihan Anwar dan Mukhtar Solihin. Ilmu Tasawuf. Pustaka Setia. Bandung. Hlm. 78
[13] Ibid. hlm. 79

No comments:

Post a Comment

Post a Comment